jebakan-paradigma

Jebakan Paradigma

Materi Pembelajaran

Yayasan Medan Generasi Impian memiliki 5 mata pelajaran pamungkas yang di ajarkan dalam program New Hope Curriculum. Matematika, Bahasa Inggris, Sains, Pendidikan Karakter, dan Kelas Aktif. Sebelum saya membahas mengapa hanya 5 mata pelajaran yang di jadikan basis pembelajaran pada program New Hope Curriculum, saya ingin bercerita tentang materi pembelajaran di negara-negara maju. Di Jepang anak kelas 1 dan 2 setingkat SD tidak di ajarkan matematika melainkan origami, kompetensinya bahkan di ukur dari kemampuan anak tersebut menemukan bentuk baru, aktivitas ini yang sering di sebut Prof Rhenald Kasali sebagai terapi “Muscle Memory”. Menurutnya, pada usia tersebut kemampuan otak dapat berkembang dengan baik jadi kita tidak perlu heran penemu-penemu ajaib lahir dari Negara tersebut.

     Mulai dari tingkat empat sekolah dasar anak-anak di Negara maju di berikan kebebasan untuk menentukan bidang yang ingin ia tekuni. Hanya ada dua mata pelajaran wajib (mereka istilahkan compulsory subjects), yaitu matematika dan bahasa inggris. Selebihnya anak yang ingin menjadi ilmuan hanya mempelajari materi-materi sains atau anak yang ingin menjadi musisi juga hanya mempelajari materi seni. Paling banyak hanya ada lima mata pelajaran spesialis tiap bidang di tiap tahunnya dan pada setiap tingkatan. Semua lebih terfokus, saya pernah membayangkan bagaimana jika Albert Einsten dari kecil di haruskan untuk les menyanyi oleh orang tuanya. Atau Picasso harus fokus memikirkan ujian nasional tentang biologi, kimia, dan fisika.

Ingat Kembali

Coba kita ingat kembali berapa mata pelajaran yang harus kita lahap di bangku sekolahan. Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, PPKN, Sejarah, geografi, Seni Musik, Seni Lukis, Olahraga, Agama, Muatan local, Komputer, IPA, dan IPS. Benar bukan? Ini baru tingkat sekolah dasar. Begitu masuk ketingkat lanjutan ke atas ada lagi mata pelajaran Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, Bahasa Francis, Kimia, Fisika, Biologi, Akuntansi, Sosiologi, Antropologi semuanya secara bersamaan di suapi ke semua siswa. Semua guru mengklaim mata pelajarannya penting, tidak ada yang mau mengalah, apabila tidak lulus siswa di haruskan mengulang setahun lagi. Coba sekali lagi anda ingat masa kecil anda.

Saya kira masa kecil anak-anak Indonesia lebih menyeramkan dari film horror. Di Negara-negara maju masa anak-anak merupakan masa di mana anak dapat bermain riang dan mengembangkan kreatifitasnya. Setelah menemukan minat dan bakatnya anak tersebut berfokus dalam bidang ilmu yang ingin di tekuninya. Dan jadilah mereka penemu serta ilmuan-ilmuan kreatif, musisi-musisi handal, pengusaha-pengusaha top. Sedangkan Indonesia hanya melahirkan juara-juara olimpiade karbitan, semu, dalam internasional hanya tingkatan sekolahan, di tingkat dewasa mereka lenyap karena jiwa kreatifitas yang harusnya di bangun sejak kecil tidak mereka dapatkan. Kenapa paradigma berpikir ini terus berulang?

[instagram-feed]