Kaki Gajah dalam penangkaran sejak kecil selalu di ikat dengan tali pada kaki bagian belakang. Anda tahu? Meskipun gajah tersebut telah tumbuh menjadi gajah dewasa yang besar dan kuat ia tetap di ikat dengan tali yang sama agar gajah tersebut tidak sembarang berpergian. Padahal sebenarnya dengan kekuatan dan besar tubuh yang ia miliki, ia dapat memutuskan tali yang mengikat kakinya itu dengan mudah. Hal ini yang di sebut trap paradigm atau jebakan paradigma. Gajah tersebut akan percaya dan tetap memiliki pandangan dan menganggap ia tidak akan bisa memutuskan tali tersebut karena dari semenjak dulu juga ia tidak bisa.
Kita tidak akan mungkin menemukan sebuah formula sempurna apabila pikiran kita terjebak dalam batasan-batasan tersebut. Kenapa hal ini perlu kita angkat sebelum membahas suatu desain sistem pembelajaran? Karena pada dasarnya suatu sistem pembelajaran harus di buat berdasarkan kesuksesan dari penerapannya di masa lalu yang di combine dengan renungan akan perubahan yang terjadi di masa yang akan datang. Sukses di terapkan di masa lalu saja belum menjamin keberhasilan serupa apabila di terapkan di masa sekarang. Bagaimana pula yang tidak sukses di masa lalu? Jaman yang telah begitu cepat berubah, mengharuskan penyesuaian yang cepat pula. Untuk itu perlu suatu futuristic system yang berorientasi masa depan agar setiap kebijakan yang di lakukan tidak kehilangan momentum, out of date ataupun Expired.
Seorang guru pernah di tanya oleh seorang konsultan pendidikan tentang metode pengajaran yang di ajarkan. “Mengapa anda menerapkan cara yang demikian?” Tanya konsultan tersebut. Sang guru menjawab “Yah karena pada saat saya bersekolah saya juga di ajari dengan cara seperti itu”. Lantas apakah anda berpikir cara tersebut sukses mengubah anda menjadi lebih baik? “tidak juga”, jawab guru tersebut. Lantas mengapa anda tetap menerapkannya? Timpal konsultan tersebut. “Saya kira itulah metode belajar baku, saya di ajarkan seperti itu, dan pemerintah dari tahun ke tahun menjadikan hal tersebut sebagai dasar bahkan pedoman. Kalau saya melawan arus, saya khawatir di anggap menyimpang, lantas tidak di beri insentif, kenaikan pangkat saya juga bisa saja terhambat”.
Batasan
Hal di atas tersebutlah yang saya sebut batasan-batasan pikiran yang berhasil menjebak para pendidik dalam suatu ruangan yang kita tidak di perbolehkan untuk keluar. Sekali lagi saya tekankan dalam menciptakan suatu formula ataupun sistem yang solutif dan efektif, bahkan untuk mengerti paparan dari sistem yang di buat ini, mari lepaskan belenggu-belenggu yang membatasi pikiran kita saat ini, hingga meyakini paradigma tersebut sebagai realita.
Yayasan Medan Generasi Impian telah di desain sebagai organisasi pendidikan yang bebas dari intervensi siapapun baik internal maupun eksternal. Seyogyanya kita tidak perlu takut pada menteri pendidikan, dinas pendidikan, LSM Pendidikan, atau apapun itu. Yayasan Medan Generasi Impian pun juga tidak perlu latah terhadap kurikulum yang di tetapkan pemerintah. Berjuang di jalan yang benar dan tepat serta bertanggung jawab atas langkah tersebut merupakan pilihan yang tepat.
Barangkali ada beberapa dari pembaca yang masih bingung, sebenarnya seperti apa contoh-contoh belenggu pemikiran tersebut atau seperti apa hal-hal yang tidak solutif. Kita akan bahas beberapa dari sekian banyak cara atau metode yang di terapkan dunia pendidikan kita selama bertahun-tahun dan pembaca dapat menilai sendiri validitas gagasan ini.
Menghafal
Selama anda duduk di bangku sekolahan berapa kali anda menghafal suatu materi? Atau berapa persen proporsi kegiatan menghafal materi mata pelajaran? Boleh saya tebak? Sekitar 70% waktu belajar anda, di gunakan untuk menghafal. Pertanyaan selanjutnya dari hafalan-hafalan tersebut, berapa persen dari materi tersebut masih anda ingat saat ini? saya tebak lagi, kurang dari 10%. Sisanya? 90% lagi, Jelas lupa karena anda tidak mengulangnya secara berkesinambungan. Benar bukan? Apalagi hafalan-hafalan buku teks yang berbentuk pengertian ini adalah, itu adalah.
Sampai saat ini anda hafal pancasila bukan karena anda pernah mati-matian menghafalnya suatu SD, tapi karena anda sering mengucapkannya kembali. Saat ini anda dapat menjawab luar kepala tentang kali-kali juga bukan karena anda hafal perkalian, tetapi karena anda sering practice penggunaan perkaliani tersebut. Semakin sering di gunakan maka perkalian tersebut semakin melekat. Makanya jangan heran kalau ada mahasiswa yang belum luar kepala dalam perhitungan perkalian.
Saya kira dulu pasti dia pernah hafal perkalian tapi minim practice sehingga tidak melekat dan tergabunglah materi perkalian kedalam 90% materi hafalan yang tinggal sejarah dalam memorinya. Jebakan berpikir hingga paradigma siapa yang perlu di perbaiki?
Baca Juga : Pengaruh Lingkaran Pertemanan
Coba kita pikirkan kembali berapa banyak waktu kita terbuang, berapa banyak siswa-siswi yang rela begadang untuk menghafal suatu materi yang barangkali hanya bertahan 3-5 hari saja dalam ingatan mereka, berapa banyak materi yang apabila di sampaikan dengan cara yang tepat akan jauh lebih melekat dan bermanfaat. Berpuluh-puluh tahun hal ini di pelihara dan terus di lakukan oleh pihak-pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tersebut. Apakah mereka tidak tahu? Salah.
Mereka tahu kondisi yang terjadi, hanya saja mereka terjebak dalam paradigma belajar kuno yang selama ini ada, tidak ada keberanian untuk menerobos keluar. Alasannya jelas, takut di pecat, takut tidak naik pangkat, takut salah langkah, takut tidak memberi dampak dan lain-lain.
